SiberAceh


Opini      : Tgk. Mursalin, S,E

Jabatan : Trainer Kader Himpunan Ulama Dayah (HUDA-ACEH) 


Relasi politik dan agama

Politik dalam definisi umum adalah, tata kehidupan bersama, baik dalam artian ruang lingkup terkecil (Mikro) maupun tata hidup bersama yang lebih besar (Macro). Berbicara agama dan negara atau politik, ini salah satu diskursus yang tidak habis-habisnya yang sering kita diskusikan sampai hari ini, sehingga penting untuk kehidupan bersama, bagaimana  agama dan politik Ini, apakah baik-baik saja atau kah kedua identitas ini memiliki relasi yang saling menguntungkan satu sama lain, atau kah sebaliknya, agama dan negara ini bena-benar saling bertolak belakang tidak dapat disatukan, yang mengakibatkan ekstrim, khususnya Aceh bila dipisahkan dengan agama.

Kalau kita imajinasikan ekstrim politik atau sebuah negeri bila dipisahkan dari agama, ini akan mendapatkan yang kita sebut dengan negeri sekuler, artinya negeri yang memisahkan agama secara total dari kehidupan masyarakat, negeri sekuler adalah sebuah sistem kelola yang memisahkan secara drastis (total) kehidupan masyarakat tersebut dengan keyakinan mereka terhadap agama, contohnya dapat kita temui mungkin akhir-akhir ini sudah semakin menurun negara yang bisa menerapkan sekuler ini, sekularisme ini kerap diterapkan pada zaman di Turki, sebelum Presiden Erdogan yaitu Attaturk, yang mana menerapkan sistem sekuler, sehingga negara yang mayoritas muslim itu melarang Azan berkumandang dengan bahasan arab yang lazim kita dengarkan. Saat itu Attaturk hanya memperbolehkan Azan dengan bahsa Turki, sehingga ekstrim pemisahan agama di dalam kehidupan masyarakat ini benar-benar diterapkan di Negara Turki saat itu.

Kemudian, tidak boleh menggunakan jilbab ketika bersosialisasi di tengah masyarakat, ini juga yang diterapkan oleh Presiden Sarkozy di Prancis pada waktu itu. Jadi ketika ada orang yang menggunakan hijab di wilayah umum atau pantai, akan di datangi Polisi dan dipaksa, agar hijab yang dipakai untuk dilepas, karena hal ini memunculkan atau menunjukkan simbol-simbol agama, jadi sebuah negeri sekuler ini ekstrim yang memisahkan antara agama dan negara atau politik ini disebut juga dengan negara sekularisme.

Dasar Dasar penolakan sekularisme dan lahirnya kontribusi

Pandangan seperti itu perlu kita tolak jadi apa dasar dasar penolakan salah satunya tentu saja dasar penolakannya adalah ekspresi relijius yang salah satu bentuk menestipasinya (pandangan) praktek relijiusnya berhubungan dengan simbol, jadi setiap orang yang hanya sekedar dibatin saja tetapi juga dimunculkan dalam sebuah tindakan mereka ini bagian dari ritual relijulitas mereka salah satunya rejilus dalam bentuk simbol, misalkan simbol- simbol yang menggunakan hijab itu salah satu bentuk simbol ekspresi yang perlu kita hargai, menggunakan kalung yang mengsimbolisasikan agama tertentu misalnya kalung salib, orang menggunakan kalung salib itu pasti bukan sekedar untuk bergaya tetapi lebih memiliki relasi yang mendalam dengan aspek aspek relijulitas.

Begitu juga orang yang menggunakan hijab memang ada sekarang yang budaya populer yang lebih menitik beratkan gaya atau busana, tetapi simbol menggunakan hijab itu sendiri merupakan ekspresi relijius setiap orang yang tidak bisa kita hilangkan karena bagian dari praktek batin spritualitas relijius. Jadi penolakan negara memiliki wewenang untuk memisahkan kehidupan masyarakat dengan simbol agama ini sangat tidak membenarkan.

Yang kedua dasar dasar penolakan negeri sekuler itu bahwa agama tidak dapat dipungkiri ini merupakan salah satu sumbangan (kontribusi) terhadap negara di dalam mengelola, mengatur tata hidup bersama apa kontribusinya tidak lain adalah berkenaan dengan moralitas jadi bagaimana kehidupan masyarakat itu bisa kita atasi dengan secara baik, orang bisa berperilaku baik, berperilaku sopan santun, tidak menyingkir dan menyakitkan orang lain, ini sesungguhnya agama memberi kontribusi kepada masyarakat memang pada kenyataannya sering kali orang menganggab bahwa agama ini juga bisa menjadi salah satunya faktor sumber kekerasan dan secara defacto memang demikian, tetapi secara subtansial agama ini sesungguhnya jika dipraktek secara benar oleh individu individu tersebut dia bisa menerapkan atau memberikan kontribusi terhadap moralitas jadi ini adalah dasar penolakan yang kedua untuk negara sekuler.

Yang ketiga tentu saja kita perlu berbicara mengenai hak asasi manusia tentu saja ketika orang memiliki keyakinan dengan ekspresi relijusnya tidak hanya beribadah, berdo’a, tetapi salah satu bagian dari ibadah itu adalah mengekspresikan dalam bentuk bentuk simbol keagamaan ini merupakan salah satu hak asasi manusia (kebebasan manusia) yang harus dijunjung tinggi, dan negeri sekuler jelas melanggar hak asasi manusia, ini ekstrim ketika politik atau negara memisahkan dirinya dengan agama.

Pentingnya ulama dan Teungku berpolitik

Kenapa ulama dan para guru-guru itu berpolitik bukankah ulama itu yang mengurus agama bagaimana akan terurus agama bila tidak ada kekuatan sebagaimana imam Al Ghazali berkata  :  Ø§Ù„ملك ÙˆØ§Ù„دين ØªÙˆØ£Ù…ان

Kekuasaan, pemerintahan dan agama itu bagaikan dua saudara kembar artinya tidak dapat dipisahkan misalnya agama terpisah, kekuasaan terasing ahli agama urusin agama, ahli kekuasaan memikirkan kekuasaannya tidak ada urusan para pengusaha dengan agama ahli agamapun tidak ada ada urusan juga dengan penguasa itu salah, bagaimana yang benar yaitu harus saling memperkuat saling terikat dan sama sama mendukung karena “faddinu aslu” agama adalah pondasi segala sesuatu, kegiatan kita orang yang beragama harus menjadikan agama itu sebagai pondasi, apa saja pondasi misalnya agama mengatakan boleh maka laksanakan atau lakukan, agama mengatakan tidak boleh tinggalkan, agama memerintahkan maka maju, agama melarang maka berhenti dan mundur maka jadikan  sesuatu sebagai pondasinya adalah agama, Hari ini kita pergi ke sawah apakah ada terlepas dengan agama jawabannya tidak walaupun orang tidak mengerti tetapi karena adanya Sifat tidak mau dicela maka orang terhindar daripada perbuatan yang dilarang dalam agama sebab ciri ciri perilaku baik adalah terpuji, Ciri ciri pekerjaan tidak bagus adalah tercela.

Maka salah bila ada ungkapan kita Teungku tugasnya beut dan seumeubeut saja,  jangan urusan politik dan ada Teungku yang sudah berpolitik dikatakan layaknya  geubeut geuseumeubeut saja tidak usah berurusan dengan politik itu salah besar kenapa ! Karena kita tidak terlepas daripada politik misalnya pergi ke sawah baru dapat hasil tanam padi harus ada air, air itu dari sungai, sungai tersebut dari irigasi, irigasi itu dari buatan pemerintah dan pemerintah itu adalah politisi (orang yang berpolitik) pergi sawah tanam padi berkaitan dengan politik bila irigasi Rusak dan pemerintah tidak dibuat maka bertahun tahun tidak dapat membajak tanah di sawah karena tidak hadir kekuatan politik di dalam kita bersawah.

Tujuan berpolitik

Visi partai PAS yaitu membangun peradaban Islam di dunia negara demokrasi dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar di dalam politik Aceh, untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh, sekaligus berpatisipasi untuk menciptakan tatanan dunia yang beradab. Kalau untuk misinya yaitu, mendorong perbaikan sistem dan praktek perpolitikan di Aceh, agar sejalan dengan nilai-nilai Islam dan keacehan.

Satu yang kita harapkan juga sekaligus ini sebagai intruksi semua bacaleg kita untuk mewujudkan keinginan yang kita cita citakan ini tempuhlah dengan cara yang halal jangan menghalalkan semua cara, semua cara silahkan demi untuk mencapai kemenangan bisanya itu curang di suara kalau menghalalkan semua cara, ya! Bisa disuara itu sendiri boleh jadi di serangan fajar, hari ini kita terima sumber uang misalnya dari toke sabu- sabulah kalau dukungan siapapun boleh yang memberi hak suara itu tidak membatasi, tapi kalau mensuport dana maka ini yang diharamkan karena tidak jelas nanti kalau misalnya DPR atau gubernur dalam partai pas akhirnya tidak  bisa buat apa apa juga untuk Aceh bahkan harus berbuat untuk kepentingan toke, ini yang rusak.

Memang kita tidak ada uang tapi para caleg-caleg ini apalagi dari kalangan Teungku Teungku Dayah selalu berbaur dengan masyarakat hanya memberi pencerahan kepada masyarakat apa efeknya apabila kita mulai dengan sesuatu oleh agama kita tidak membenarkan maka kalau kita ingin Aceh nanti lebih baik, bagus, dan lebih maju hukumnya bisa tegak ya memang kita mulai dari proses rekrutmen pencalonan anggota DPRK dan DPR Aceh ini harus orang orang bagus, harus disaring dari awal.

Dan ada peraturan organisasi kalau kedapatan bahwa yang bersangkutan mereka didanai oleh kelompok atau mafia-mafia yang tidak jelas menurut hukum syariat dan menurut ketetapan negara dilarang ini diibaratkan ketika sesudah dilantik langsung diberantaskan, jadi kekuatannya hanya berbasis santri dan masyarakat kita juga menghimbau bahkan begitu partai ini diterima oleh KPU pusat sebagai partai pas yang sah sebagai pemilu apa yang diucapkan atau didoakan bahwa partai pas ini bermanfaat untuk agamamu ya Allah, untuk ummat nabimu di Aceh, bermanfaat untuk Aceh maka jayakan partai pas ini, tapi kalau keberadaan partai pas ini menjadi fitnah terhadap agama Allah, dan menjadi fitnah kehancuran terhadap umat Islam yang ada diaceh menjadi suatu wadah untuk kehancuran terhadap umat Islam yang ada di Aceh Maka ya Allah berikan kekuatan untuk kami berjuang terhadap Aceh ini melalui jalur jalur yang baik karena kita tahu kenapa ulama ini membikin partai ini karena landasan hidup kita adalah agama, kita harus tahu bahwa hukum syariat ini tidak akan bisa tegak secara kaffah (maksimal) apabila tidak didukung oleh pemerintah jadi bernegara tanpa agama ini akan hancur dan politik tanpa agama juga akan hancur.

Kemudian agama tidak dibantu atau dikawal oleh negara juga bisa hilang nanti, jadi kedua-duanya penting, negara penting politik pun juga sangat penting maka sangat aneh apabila ada orang yang menganggab bahwa ulama jangan berpolitik untuk apa ulama berpolitik lebih baik ulama ini menjadi pencerahan kepada umat, sesudah kita lihat dengan kacamata yang sebenarnya ulama jangan berpolitik bila ulama ini bikin partai sendiri tapi anehnya kalau ulama berpolitik ke partai mereka itu boleh ini  yang ng menjadi masalah, kita tidak mau kelompok siapapun yang menjadikan ulama ini sebagai pendorong mobil dikala mogok, begitu mobilnya berangkat ulama tinggal di belakang apa yang kita rasakan ya jelas termakan asap saja, bahkan ada seseorang yang berkata untuk apa ulama berpolitik ulama lebih baik seumeubeut saja beliau berpolitik terus tapi ada satu dan dua ulama dipihak dia itu boleh, ini yang tidak bijak.

Lebih baru Lebih lama